Quit Social Media

Ada satu perusahaan teknologi yang bisa bikin penggunanya kecanduan memakai produk mereka, perusahaan itu ialah Facebook. Facebook merekrut para engineer & ahli-ahli terbaik di bidangnya agar para pengguna berlama-lama di Facebook. Maka tak heran walaupun sudah berjalan 14 tahun, Facebook tetap eksis hingga kini. Dalam kurun waktu tersebut sudah banyak social media-social media yang sudah ditinggal para penggunanya & bahkan banyak di antaranya sudah tutup, semisal: Friendster, MySpace, Plurk, Path dll

Bulan April 2012 yang lalu Facebook memperkuat portofolionya dengan mengakuisisi Instagram senilai 1 Miliar USD alias sekitar 14 Triliun rupiah. Sebelum dibeli oleh Facebook, Instagram nyaris tidak memiliki revenue apa pun alias neraca keuangan mereka minus. Tetapi Instagram memiliki aset yang begitu berharga sehingga Facebook mau mengakuisisi mereka dengan nilai fantastis. Aset Instagram yang paling berharga adalah pengguna setia mereka yang mengakses Instagram setiap hari.

Setelah proses akuisisi tersebut gue sudah tau jika Instagram akan berubah menjadi seperti Facebook. Timeline ditampilkan suka-suka algoritma & tak lagi urut berdasarkan waktu posting, muncul iklan dan yang paling krusial ialah pengguna dibuat berlama-lama menjelajah Instagram.

Makin ke sini gue jadi merasa bahwa Facebook & Instagram membuat kita mengkonsumsi info yang menarik tapi minim faedah. Misal artikel/video kontroversi, kejadian lucu, gosip, hal-hal aneh dll. Ga cuma itu, beberapa penelitian mengungkapkan bahwa social media berefek buruk untuk kesehatan mental kita. Di Instagram misalnya, orang-orang terlihat punya hidup yang indah terutama jika kita melihat kehidupan para selebritis & selebgram. Atau ke lingkaran yang lebih kecil, tak jarang kita jumpai teman kita yang sering upload foto jalan-jalan & nongkrong di cafe. Lalu kita jadi membandingkan ke diri kita, kok hidup hidup gue cuma kayak gini aja ya? Padahal sebenarnya postingan-postingan social media itu sudah well curated. Kebanyakan orang memang cuma mengupload foto yang menyenangkan & keren saja.

Dari hasil survei terhadap 5 social media (Youtube, Twitter, Facebook, Snapchat & Instagram) ternyata kelima social media tersebut berpengaruh negatif terhadap kualitas tidur, body image & FOMO (fear of missing out/takut ketinggalan info kekinian). Bahkan 4 dari 5 social media tersebut bisa meningkatkan depresi (depression) & kecemasan (anxiety).

Dan tadi gue kebetulan nonton video TEDx dari Carl Newport yang berjudul “Quit Social Media”. Bagi yang belum tau, dia adalah pengarang buku “So Good They Can’t Ignore You” & “Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World”. Dulu gue kira Carl Newport sudah tua seperti kebanyakan para professor, lha ternyata baru 35 tahun men. Di usia yang masih muda tersebut dia sudah menghasilkan 7 buku, beberapa di antaranya menjadi best seller.

Seperti halnya sutradara favorit gue, Christopher Nolan, Carl Newport ternyata ga memiliki social media. Btw Christoper Nolan malah lebih ekstrim lagi, dia ga punya handphone & email. Jika dirunut ternyata benang merahnya sama yaitu social media & gadget bisa menganggu konsentrasi kita saat mengerjakan hal-hal produktif, misal saat bekerja atau membuat karya. Sebab untuk menghasilkan pekerjaan yang terbaik ntah di bidang apa pun itu kita perlu konsentrasi tinggi dalam jangka waktu yang lama & tanpa terganggu.

Kata Carl Newport, salah satu hal berharga yang bisa membuat kita kompetitif di abad 21 ini ialah kemampuan untuk menghasilkan karya yang langka & berharga. Sedangkan untuk menggapai hal tersebut ternyata behaviornya bertolak belakang sifat social media yang mana mendorong pengguna untuk menghasilkan sesuatu yang mudah tapi minim value, yaitu post, status, stories, tweet dll. Dalam jangka waktu yang lama social media akan membuat kita kesulitan berkonsentrasi ketika mengerjakan hal-hal yang penting karena kita sering terganggu oleh notifikasi maupun rasa pengen ngecek social media. Gue pun saat ini sudah merasakannya, pada diri gue maupun orang-orang sekitar gue terutama anak-anak muda.

Karena itulah gue berkeinginan untuk mengurangi social media dan bahkan men-deactive akun social media gue. Mungkin belum semua social media, prioritasnya saat ini Instagram, because I know how addictive they are. Untuk Facebook gue sudah lama deactive. Sedangkan untuk Twitter candunya ga separah Instagram sebab timeline masih chronological order (diurutkan berdasarkan waktu posting ) dan ada fitur mute yang membuat konten yang di-mute tidak tampil di timeline kita.

Semoga bisa, biar bisa lebih banyak nulis di blog.zusuf.com & identitasvisual.com, membaca buku atau melakukan aktivitas yang lebih berfaedah lainnya.

 

*FYI: Gue butuh waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk menulis & mengedit tulisan ini, uninterrupted (tanpa mengerjakan hal lain selain nulis & riset bahan tulisan).