Kenapa Gue Ga Follow Temen Gue di Social Media

Temen-temen gue sering bilang kalau gue ‘sombong’ karena ga mau follow akun socmed mereka, di Instagram misalnya. Secara personal gue memang ga suka -dan seingat gue memang ga pernah- pakai kata “folback ya!” dalam bersosmed yang sistemnya folow-folow-an semacam Instagram & Twitter. Ada beberapa alasan kenapa gue melakukan hal tersebut, berikut di antaranya:

You are What You Eat

Socmed adalah aplikasi/website yang paling sering kita kunjungi setiap hari selain chatting app. Tiap hari kita menhabiskan waktu berjam-jam membaca timeline Facebook, Instagram, Twitter, Path dll. Tanpa kita sadari konten socmed lah yang terus-terusan mengisi kepala kita, apalagi yang gak suka baca buku atau portal berita berarti hampir semua informasi digital yang dikonsumsi bersumber dari socmed. Ada istilah “you are what you eat” alias “kamu adalah apa yang kamu makan”. Kalau kamu mengkonsumsi A maka akan keluar A, kalau mengkonsumsi B maka akan menghasilkan output B.

Prinsip gue, kalau main Instagram ya gue follow akun yang konten foto/videonya bagus/bermanfaat/menghibur buat gue. Kalau main Twitter follow yang pemikiraannya atau infonya bagus/bermanfaat/menghibur buat gue. Kenapa? karena apa yang kita baca, kita liat, kita lakukan setiap hari akan membentuk alam bawah sadar kita. Kalau kita sering liat foto bagus lama-lama taste foto kita akan ikut bagus. Kalau kita sering baca tulisan yang bagus lama-lama kita pemikiran kita jadi ikutan bagus. Begitu juga sebaliknya. As simple as that!

Karena Berteman Ga Harus via Social Media

Gue ‘memisahkan’ socmed dengan pertemanan di dunia nyata. Ga follow bukan berarti ga bertemen. Toh pertemanan biasanya lebih lekat di kehidupan sehar-hari. Lah kenapa ga follow sekalian aja akun socmed merekan? Karena gue ga merasa harus mengikuti posting mereka setiap hari. Lalu gimana biar tahu kabar temen kalau ga follow? Tetep bisa kok, kan tinggal visit aja akun mereka, kalau akunnya ga di private ya.

Menghindari Negativitas

Buat apa kita follow akun teman kita namun kita tak suka dengan posting yang sering ia unggah ke socmed. Yakin dah banyak yang mengalaminya terutama saat-saat Pilkada & Pilpres. Rasanya eneg liat timeline bukan? Dari pada ntar malah twitwar atau instawar atau facebookwar mending ga follow aja sekalian…hehe

Begitulah, secara umum sebenernya alasan gue ga follow teman di socmed mirip dengan alasan beberapa temen gue yang memprivate socmed mereka. Kalau mereka yang memprivate akun artinya mengatur siapa aja yang boleh membaca konten yang mereka posting, maka bagi gue memfollow ialah kebijakan gue mengatur postingan apa yang masuk ke kepala gue 😎

Btw, pertimbangan gue ini juga mirip-mirip apa yang diungkapkan Erward Suhadi di blognya “Why I Don’t Follow My Friends Instagram”. Lebih bagus tulisan dia sih..haha XD

Intinya sih I follow things that matter to me dan berusaha sebijak mungkin menggunakan socmed.
Cheers! 😀

 

~

NB:

Gue menghindari memfollow akun berita karena menuh-menuhin timeline. Gue juga benci akun politik anonim & buzzer politik, bacot berasa paling pinter, merasa paling benar, namun postingan dia bisa dipesan siapa aja yang mau bayar. Gue juga benci akun gosip semacam L*mbe Tur*h, isinya posting tentang kejelekan/aib orang melulu & menyebarkan berita-berita yang belum tentu benar. Ironisnya akun politik anonim, akun buzzer politik dan akun gosip banyak banget difollow masyarakat Indonesia :/
Ga heran kalau beberapa waktu belakangan masyarakat ‘panas’ terus. Lha mereka banyak mengkonsumsi konten negatif gitu setiap hari, dah gitu kecampur ma hoax lagi seperti yang gue bahas di tulisan ini.