Portrait_g

Ikut Workshop “Signature Portrait by Benny Lim”

Beberapa waktu terakhir gue mulai suka foto portrait. Saat awal-awal suka fotografi gue lebih suka genre street photography. Alasannya sebenarnya simple, gue suka foto yang natural. Sampai sekarang pun masih suka genre foto ini. Namun setelah beberapa waktu menggunakan Instagram dan mulai menemukan fotografer foto portrait yang bagus gue mulai suka dengan foto portrait.

Memfoto portrait itu ga gampang, terutama jika yang di foto buka seorang model. Sering kan kita menjumpai foto orang yang posenya kaku & terlihat dibuat-buat. Nah bedanya fotografer profesional yang jago ialah mereka bisa membuat orang yang difoto nampak natural walaupun mereka bukan model. Contoh paling simple coba liat foto pre-wedding hasil jepretan studio/fotografer ternama di Indonesia, semisal Axioo, Benny Lim, Davy Linggar dkk.

Kebetulan awal bulan Februari kemarin ada workshop “Signature Portrait” oleh Benny Lim yang disponsori oleh Aneka Foto & Sony Indonesia. Karena sudah cukup lama mengikuti karya Benny Lim di Instagram maka akhirnya langsung daftar. Sebenarnya tujuan gue ikut workshop ini simple, pengen tahu bagaimana para fotografer professional tersebut menghasilkan foto yang bagus, baik saat memfoto model profesional maupun orang non-model.

 

Durasi Workshop

Photography Workshop Signature Portrait by Benny Lim

Sebelum ke materi, gue jelasin sedikit tentang workshopnya. Workshopnya sekitar 4,5 jam, terdiri dari:

  • Setengah jam pertama: penjelasan produk-produk dari Sony selaku sponsor workshop
  • 1,5  jam: materi Signature Portrait dari Benny Lim & tanya jawab
  • 1 jam: istirahat makan siang (sekaligus panitia menyiapkan studio foto sebab tempat fotonya di tempat yang sama dengan tempat penyampaian materi)
  • 1,5 jam: praktek portrait photography, mini competition & review pemenang

 

Cahaya adalah Kunci!

Dalam foto portrait cahaya adalah kunci. Bagaimana cahaya jatuh ke wajah objek akan mempengaruhi kesan si objek. Misal ia jadi tampak ramah, tegas, misterius, cantik dll. Ada 2 macam cahaya yang biasa digunakan yaitu natural light yang berasal dari cahaya matahari & studio light yang berasal dari pencahayaan lampu di studio. Kita juga men-setup studio light untuk menghasilkan foto yang memiliki kesan seperti natural light.

 

Kenali Karakter Lightning untuk Studio

Ada 2 macam lighting untuk studio:

  • Continous light
  • Strobe/flash light

Setelah gue sadari, ternyata selama ini gue lebih suka foto portrait dengan continous light. Kenapa? Karena continous light bisa menghasilkan foto mendekati foto dengan natural light. Bahkan ada beberapa foto Benny Lim yang awalnya gue kira hasil cahaya matahari pagi ternyata hasil continous light. Dan setelah gue cermati itu salah satu faktor kenapa gue suka karya-karyanya, karena memang kebanyakan menggunakan natural light & continous light sehingga objek yang difoto jadi lebih lembut jika dibandingka hasil flash light yang lebih tegas.

Ada 3 macam set up studio light :

  • Key light
  • Fill light
  • Back light

Kalau mau mendalami portrait memang mau ga mau harus mengeksplor set up light tersebut. Saat praktek ada beberapa giliran untuk memfoto dengan setting lightning yang beda-beda. Dan memang ada beberapa set up yang gue suka ada yang ngga. Agak nyesel juga kemarin dapet lightning bukan yang gue suka sebab ga ambil giliran awal.

 

Photography Element

Beberapa hal yang yang perlu dipersiapkan saat memfoto portrait:

  • Posing & direction
  • Angle, lighting & composition
  • Props/set/backdrop
  • POI (Point of Interest)

 

Signature Portrait

Rahasia membuat foto signature portrait ialah tergantung kesukaan kita & sejauh mana kita mengeksplorasi foto. Contohnya, Benny Lim mengatakan bahawa signature portrait-nya ialah foto portrait tapi diambil menggunakan lensa tele dengan latar outdoor/arsitektur. Cara ini memang agak gak lazim, sebab untuk melakukannya dia harus berada jauh dari objek foto (sekitar 200 meter). Kesulitannya ialah bagimana ia mengarahkan pose objeknya. Kelebihannya ialah ia bisa mendapatkan view environment (misal sisi arsitektur bangunan) yang berbeda/jarang ditemui di foto pada umumnya sebab lensa tele memiliki karakter yang membuat background di belakang objek mendekat tidak seperti hasil lensa portrait 50 mm & 85 mm (gimana ya agak susah jelasinnya..haha).

 

Ketika Menjadi Fotografer Profesional, Branding itu Sangat Penting

Karena sebagian peserta juga merupakan fotografer profesional (seorang yang menjadikan fotografi sebagai sebuah profesi & mendapatkan uang dari sana) maka ssat tanya jawab ada beberapa pertanyaan tentang kehidupan fotografer profesional.

Sedikit cerita Benny Lim pada mulanya ialah seorang fotografer anak-anak. Di punya studio foto untuk keperluan anak, maternity & keluarga dengan brand Junia Photography. Alasan kenapa dia terjun ke dunia foto 7 tahun lalu ialah gara-gara melihat banyaknya pasangan muda-mudi setelah ibadah hari Minggu. Dia berpikir sebentar lagi mereka akan menikah & punya anak, “Kenapa gue ga jadi footografer wedding & anak-anak aja?” begitu celetuknya. Karna dia memang pada mulanya lebih suka memfoto anak-anak akhirnya dia fokus untuk menjadi kids photographer, dengan nama brand Junia PotographySetelah beberapa tahun berjalan barulah mulai merambah ke dunia wedding & menjadi wedding photographer dengan membuat brand baru Nomina Photography.

Dalam meniti karir, fotografer bisa membranding sebagai seorang fotografer sendiri yaitu dengan memakai namanya sebagai brand. Atau bisa menggunakan brand sebagai sebuah perusahan yaitu dengam memanai nama company. Keduanya memiliki plus & minus.

Ketika terjun sebagai fotografer profesional mau ga mau harus melakukan branding. Itu lah yang membedakan value dari seorang fotografer. Dua fotografer yang memiliki skill yang sama bisa memiliki rate yang berbeda sebab yang satu lebih jago branding.

Di awal karirnya untuk mem-branding Junia, Benny Lim membuat pameran tunggal di sebuah mall besar di Jakarta. Branding seperti ini termasuk branding long term yang hasilnya ga bisa dinikmati dalam waktu dekat.

Saat mulai booming Instagram, Benny Lim pun ikut aktif memaerkan karyanaya di dunia digital sekaligus membranding dirinya. Dari sana lah akhirnya dia juga menjadi KOL (Key Opinion Leader)/buzzer/endorser beberapa brand terkemuka. Salah satu pencapaian terbesarnya ialah menjadi Sony Alpha Photografer sebagai perwakilan fotografer Indonesia beserta fotografer lain semisal: Glenn Prasetya & Nicoline Patricia. Tak hanya di Instagram dia berhasil mempopulerkan hashtag #handsinframe. Yang dikemudian hari menjadi cikal bakal dia mendirikan bisnis digital marketing dengan brand HIF Creative.

Dengan karya-karya yang telah dibuatnya & branding yang baik, Benny Lim saat ini bisa memasang tarif foto wedding start from xx juta. Sebuah tarif yang cukup tinggi bukan? Tapi tetap saja setiap pasar punya segmen sendiri-sendiri. Kata dia, yang memberi nilai diri kita ialah kita sendiri. Dia memasang tarif segitu juga ga sembarangan, sebab dia juga punya puluhan personel di perusahaanya & telah memfoto tokoh & artis terkemuka.

 

Creating Mood saat Memfoto

Saat memfoto menciptakan mood yang bagus bagi objek foto (baik model maupun orang umum) adalah sangat penting. Saat praktek foto, Benny Lim sempat mengganti lagu karena dirasa lagu yang diputar ga cocok dengan poss yang ingin ia ambil. Karena ingin pose enerjik maka ia memilih memutar up beat son. Tak hanya itu, komunikasi ke objek foto juga penting & buat objek foto serileks mungkin. Jika dirasa sudah terlalu lama memfoto bisa mengambil break dulu untuk sekedar minum, duduk sebentar atau merapikan make up & baju. Agak menyesal kemarin mengambil giliran foto akhir sebab model sudah lelah, sehingga ekspresinya ga sebagus saat awal foto.

 

Mazhab Kai Man Wong (Digital Rev)

Sebelum ikut workshop ini gue punya kamera APSC Fuji X100 dengan lensa fixed 23 mm (setara lensa ~35 mm FF) & gak bisa diganti lensanya. Bukan lensa ideal untuk foto portrait karena terlalu wide. Biasanya untuk portrait memakai lensa 50 mm FF atau 85 mm FF.

Karena itu akhirnya gue pinjem kamera Nikon punya temen kantor H-1 workshop. Ternyata kameranya gak terpasang strap. Agak horror pegangnya soalnya kamera pinjeman. Akhirnya gue pasangi strap Fuji gue seperti halnya Kai Man Wong di acara Digital Rev yang memakaikan strap Canon di kamera Nikon & vice versa..haha

Jadi gue dateng ke workshop Sony pakai kamera Nikon dengan strap Fuji!!!!!
*thug lyfe! 😎

FujI x Nikon x Sony

Fujifilm x Nikon X Sony

 

Mencoba Sony A7II

Nah saat nunggu giliran foto gue disamperin ibu marketing Sony dan ditawarin dipinjemin Sony A7II buat foto yang kebetulan memang ada beberapa spare kamera Sony yang telah disiapin. Smooth Bu cara marketingnya..hehe

Berhubung gue juga ingin cobain Sony maka gue iya kan penawaran tersebut.

Kesan pakai Sony A7II: cool!!!
Auto fokusnya kenceng. Tone warna juga ok.
Jadi kepengen beli..hahaha

 

Hasil Workshop

Berikut foto beberapa hasil workshop portrait photography kemarin:

 

Menurut gue ini foto terbaik gue hari itu

Foto favorit gue hari itu

 

Over exposure di wajah

Over exposure di wajah

 

Dark mode

Dark mode

 

Paramex Mba?

Paramex Mba?

 

Versi behind the scene:

 

Suka ekspresi ini, sayang blur & terhalang

Suka ekspresi ini, sayang blur & terhalang

 

Ala paparazzi

Ala paparazzi

 

Sekian.