Buat Indosat

Gue sudah sekitar satu dekade memakai nomor ponsel yang sekarang gue pakai sehari-hari. Sejak pertama membeli ponsel saat SMA nomor tersebut tetap gue pakai hingga sekarang. Alasan gue tetap pakai nomor tersebut karena provider-nya masih ok. Bukan provider dengan kualitas paling bagus sih tapi provider ini terkenal ramah di kantong anak muda (segmen SMA & mahasiswa). Ya, providernya adalah Indosat Ooredo.

Selama ini gue rasa layanan Indosat itu value for money, alias layanan cukup ok sebanding dengan harganya. Tarif ga semahal Telkomsel, tetapi kualitas & ketercakupan jaringan juga ga sebagus Telkomsel juga sih.

Tetapi 3 tahun terakhir ini gue merasakan kualitas & ketercakupan jaringan Indosat turun drastis. Bahkan di rumah (Jawa Tengah) jaringan Indosat sekarang sangat buruk. Seringnya lost signal, sedangkan paling bagus cuma 1 bar sinyal. Karena hal tersebut akhirnya keluarga di rumah hijrah ke Telkomsel, Axis & Tri 3.

Ga cuma itu, gue yang di Jakarta pun merasakan penurunan kualitas layanan Indosat. Entah sudah berapa kali gue melayangkan keluhan ke akun medsos Indosat selama 2 tahun terakhir. Dan ternyata hal tersebut ga cuma gue aja yang rasain karena tab mention keluhan ke Indosat memang berjibun.

Jika ditelisik, manajemen Indosat pun juga lagi bermasalah. Setidaknya Indosat sudah ganti 3 kali CEO dalam 2 tahun terakhir. Yang lebih parah angka churn rate pelanggan Indosat dalam kurun 2 tahun terakhir sangat tinggi.

“Jumlah pelanggan Indosat Ooredoo menurun 47,3% dari sebelumnya 110,2 juta subscriber pada 2017 menjadi 58 juta subscriber di akhir 2018,” papar Chris Kanter, Direktur Utama Indosat Ooredoo, pada acara pemaparan hasil RUPS Tahunan 2019 di Jakarta, Kamis (2/5/2019)

Bayangin Indosat kehilangan hampir setengah pelanggannya dalam kurun waktu 1 tahun. Mimpi buruk!

Dari manajemen Indosat beralasan penyebabnya karena aturan terbaru pemerintah tentang pembatasan jumlah kepemilikan nomor, yaitu maksimal 3 nomor per NIK. Tapi tentunya itu bukan penyebab tunggal. Gue sebagai pelanggan lama bakal bilang kenapa para pelanggan banyak yang meninggalkan Indosat ya karena kualitas layanan Indosat menurun. Apalagi generasi millenial yang sangat tech savvy, mereka butuh kualitas jaringan & data yang bagus buat kegiatan sehari-hari mereka. Ketika Indosat saat ini cuma bisa menawarkan tarif terjangkau tapi layanannya buruk maka pelanggan akan lari ke provider lain. Yang punya anggaran lebih pindah ke Telkomsel atau XL Axiata, sedangkan kantongnya terbatas bisa ke Three atau Smartfren.

Saran buat Indosat.

Dalam dunia bisnis terdapat prinsip Pareto, aturan 80-20. Sederhananya 80% revenue disumbang oleh 20% pelanggan. Tolong fokus di pelanggan ini.

Dari data ARPU (Average Revenue Per User) Indosat merupakan yang paling rendah dibandingkan Telkomsel & XL Axiata. ARPU Indosat Rp24.600, sedangkan XL Axiata Rp33.000 & Telkomsel Rp41.000. Masih ada ruang untuk Indosat menaikkan ARPU minimal mencapai angka XL Axiata asalkan kualitas layangan juga dibagusin. Jika kualitas jaringan ga diperbaiki jangan berharap ARPU akan naik drastis.

Menurut gue pilihan buat Indosat ada 2, tetap di segmen sekarang dengan memberi layanan dengan kualitas medioker atau geser ke segmen yang lebih mapan dengan memberi layanan dengan kualitas bagus. Jika tetap di pilihan pertama maka Indosat bakal kesulitan menaikkan ARPU & tentunya kesulitan menaikkan revenue, sedangkan jika memilih pilihan kedua maka harus keluar investasi yang besar.

Atau mungkin bakal ada pilihan ke-3, merger dengan operator lain.
Entah lah.